Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
(Jaatsiyah 23)
KATA cinta dalam bahasa Indonesia, atau love dalam bahasa Inggris atau tresno dalam bahasa Jawa adalah kata mutiara yang memiliki kekuatan illahiah yang sangat mendalam. Satu kata ini mengandung energi spiritual yang dahsyat yang dapat mengalahkan tembok kekerasan, keegoan dan api amarah. Cinta beralaskan Allah bisa melahirkan keadaban, cinta beralaskan syetan melahirkan bencana.
Dari kata cinta itu, muncul kalimat “aku cinta padamu”, dan atau “i love you” dan atau “aku tresno karo koe” yang pengucapannya selalu dimaknai dengan satu perasaan berupa kekuatan batin karena muncul dari hati dan kesadaran insaniah seseorang terhadap objek yang dia sukai secara tulus.
Objek yang dicintai seseorang bisa seorang gadis atau wanita cantik, istri dan anak yang shaleh, pekerjaan, rumah, Tuhan, Nabi, harta dan sebagainya. Cinta menjadi energi yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang kadang-kadang sampai di luar batas keakalan kita.
Namun, kekuatan cinta yang memiliki nilai illahiah terkadang banyak dimanfaatkan segelintir orang untuk menarik simpati di dalam kedustaan, menyelamatkan diri di dalam kemunafikan, meraih mimpi di dalam ketidakpastian sehingga banyak yang jadi korban.
Bisa seorang gadis, wanita, istri, anak, pekerjaan, rumah, Tuhan, Nabi, harta dan sebagainya yang menjadi korban. Kita mengenal cinta dusta, atau pengobral cinta yang umumnya dialami anak-anak muda saat ini. Kalimat cinta begitu mudah diucapkan, tapi jarang bisa dipertanggungjawabkan. Itu keliru.
Allah SWT meniupkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada manusia sebagai rahmat terbesar dalam penciptaan-Nya. Rahmat itu mengalahkan rahmat cinta dan kasih sayang yang Allah berikan kepada makhluk selain manusia.
Sebagai contoh, ibu / induk dari seekor anjing atau jenis binatang lainnya seperti kambing, sapi, burung yang mengasihi anaknya dan mau mengorbankan hidupnya untuk kepentingan menyelamatkan anaknya dari semua ancaman yang dapat membahayakan anaknya, padahal 100% benar kalau anak yang dibesarkan tersebut tidak akan pernah mau mengabdi untuk kepentingan ibunya.
Bahkan anak anjing itu setelah dewasa “memperkosa ibunya” sendiri sehingga dari ibunya lahir anak-anak dari anak yang dibesarkan dan dipelihara oleh ibu anjing tersebut. Bagaimana dengan kasih sayang manusia? Tidak terhingga dan jauh lebih mulia dari cinta dan kasih sayang yang Allah berikan kepada binatang.
Beda dengan cinta yang ditiupkan Allah kepada manusia dimana kekuatan cinta yang ditiupkan Allah tersebut mendorong manusia untuk saling hormat menghormati, saling kasih mengasihi, saling memberi dan menerima tanpa pamrih dan harap, bahkan mau berkorban untuk orang atau sesuatu yang dia cintai.
Selain itu, orang yang mencintai sesuatu mau mengorbankan apa yang dia sayangi untuk yang dia dicintai. Masalahnya, kondisi ini hanya bisa tercipta kalau cinta itu diselami dan dimaknai secara sesungguhnya, bukan parsial dan temporer. Cinta itu universal, tidak ada batas waktu dan usia.
Nabi Ibrahim adalah salah satu contoh dimana kekuatan cinta yang dimiliki seorang bernama Ibrahim kepada Allah melebihi kecintaannya kepada yang lainnya, termasuk anak dan istrinya. Jangan lihat Ibrahim sebagai Nabi, tapi lihat sebagai manusia dimana dia mau mengorbankan satu-satunya anak yang dia cintai bernama Ismail demi membuktikan kecintaannya kepada Allah SWT.
Luar biasa dan lebih luar biasa manakala Ismail yang akan dikorbankan Ibrahim kepada Sang Pencipta tersebut memahami kondisi tersebut. Dan dengan keikhlasan dan kecintaannya kepada Allah dan Sang Ayah, seorang bocah Ismail meminta Sang Ayahnya untuk menyembelihnya seperti yang diperintahkan Allah SWT kepadanya.
Allah memang pantas dicintai dan kecintaan kepada Allah idealnya mengalahkan kecintaan manusia kepada yang lainnya, meskipun untuk era sekarang, kecintaan kepada Allah telah terkalahkan oleh kecintaan kepada harta benda dan objek alam nyata lainnya.
Allah telah memberikan semuanya kepada manusia berupa alam yang sempurna sebagai tempat menetap dan langit yang indah sebagai atapnya. Membentuk manusia yang berakal dan berfikir serta memberikan rezeki kepada mereka.
Allah lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhan mu. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
(Al Mukmin: 64)
Jadi, Alllah memberi kekuatan cinta kepada manusia sebagai bagian kekuatan-Nya yang dahsyat itu, memiliki makna yang dalam untuk kepentingan manusia di dunia maupun setelah dia wafat nantinya. Berterima kasih kepada Allah dalam bentuk mensyukuri nikmatnya adalah cara yang tepat untuk memperlihatkan bahwa kita mencintai Allah karena kebaikan-Nya yang tidak terbantahkan lagi.
Hidup ini hanya sebentar, sayang kalau hanya dihabiskan untuk memenuhi hasrat nafsu dan mengabaikan hasrat cinta yang sesungguhnya yakni cinta yang mampu menggerakkan manusia untuk mensyukuri apa yang telah diberikan Sang Ilahi kepadanya. (*)
tularji – with love to my friend ARS
Hidup merupakan mengharap Cinta Allah yang harus mengorbankan Jiwa dan Raga. Tetapi untuk hal itu harus mendapatkan Kesadaran diri yang tinggi.