
foto dari www.tempointeraktif.com
Kita baru saja kehilangan salah satu tokoh entertainment filem kita dan juga seorang politikus yang berhati nurani. Umumnya reaksi terhadap kecelakaan yang menewaskan Sophan Sophiaan, suami dan kekasih tercinta Widyawati, sangat positif dan doa masyarakat umumnya mengantar Bung Sophan ke peristirahatan yang terakhir di bumi ini. Semoga ia diterima Allah swt sesuai amal ibadahnya. Reaksi positif yang umumnya saya lihat adalah ekspresi cinta kita pada seseorang yang kita ketahui dan mungkin yakini adalah seseorang yang dalam kapasitasnya sebagai tokoh telah memperjuangkan sesuatu bagi bangsa dan negara kita. Walau persepsi kita mengenai dirinya dibentuk oleh media karena mayoritas kita tidak mengenalnya secara pribadi. Sudah selayaknya kita mendoakan yang meninggal dengan harapan ia diterima oleh sang khalik disisiNYA. Namun, ada saja diantara kita yang malah secara langsung atau tidak langsung menjelekkan citranya dengan menghubungkan hobi bung Sophan, penggemar moge, yang hanya dinikmati orang kaya dengan kenaikan BBM, macetnya lalulintas akibat konvoi 270an moge yang melintas di jalan tol, jalan raya, dst, dst. Insensitifitas (ketidakpekaan) orang-orang ini yang notabene termasuk orang-orang yang dinilai oleh orang lain atau oleh diri mereka sendiri sebagai trainer, motivator, penulis buku, dll menunjukkan tidak adanya cinta dalam diri mereka kecuali cinta pada pemikiran diri sendiri (selfishness) seolah-olah mereka ini yang paling pintar, paling intelektual, tanpa dosa, tanpa noda. Apapun penilaian kita terhadap seseorang, tunjukkanlah cinta kita pada mereka sebagai umat manusia yang membutuhkan doa kita bila mereka memulai perjalanan baru mereka. Maukah kta kalau meninggal dunia diomongin buruk seperti itu? Saya rasa tidak. Kebebasan berekpresi tidak berarti kita boleh seenaknya mengatain orang apalagi yang sudah tidak bisa membela diri. Apakah yang berangkat itu Soeharto, Sophan Sophiaan, Sadam Hussein, George Bush, Osama bin Laden, dll.
Cinta berarti forgiving the transgressor – Love berarti memaafkan yang menyerang, yang menzalimi kita. Apakah Bung Sophan menyerang atau menzalimi anda-anda yang menulis secara kejam mengenai misi yang ia pimpin? Kalau kita menganggap diri kita seorang beriman dan mukmin, maka marilah kita lakukan apa yang disampaikan oleh Widyawati mengenai kebiasaan Sophan. Yakni, setiap saat ia ketemu istrinya ia selalu mengatakan ‘I LOVE YOU‘. Sehari bisa berapa kali? Ada pepatah “WE ARE WHAT WE SAY” – Kita adalah apa yang kita katakan. Di negeri kita ada pepatah yang mirip : Mulutmu harimaumu.
Bung Sophan telah menjadi apa yang ia katakan. Ia adalah pencinta istri dan anak-anaknya. Ia adalah pencinta bangsanya (sehingga rela meninggalkan DPR dan partainya). Ia adalah pencinta bangsa yang telah kehilangan rasa nasionalisme sehingga rela bepergian untuk menggugah kembali rasa nasionalisme yang telah membawa kita pada kemerdekaan. Misi terakhir inilah yang telah memisahkannya secara fisik dari keluarganya dan semua yang ia cintai dan mencintai dia.
Kepada yang hanya bisa mengeritik pada saat ia sudah tiada, belajarlah mengatakan I LOVE YOU setiap saat kepada setiap orang yang ditemui dengan perasaaan cinta yang sesungguhnya. Kita bisa melihat karakter dan kepribadian anda dari kata-kata yang meluncur dari mulut anda. BE A LOVER and YOU WILL BE LOVED. JADILAH SEORANG PENCINTA dan ANDA AKAN DICINTAI.
SAY I LOVE YOU!
Say I LOVE YOU.