Saya baru saja menonton filem The Partition yang menceriterakan dibelahnya semenanjung India menjadi 2 negara India dan Pakistan pada tahun 1947. Pembelahan ini mengakibatkan tewasnya 1 juta manusia tak berdosa hanya karena yang beragama Islam harus ke Pakistan dan yang beragama Hindu dan Sikhs harus ke India. Penjajahan Kolonial Inggris dan penyelesaian politik yang membelah semenanjung India menjadi 2 negara berdasarkan agama telah membuat orang begitu beringas sehingga pembantaian dilakukan oleh kedua belah pihak hanya karena perbedaan agama. Kisah serupa terulang waktu Yugoslavia terbelah menjadi Serbia, Bosnia, Montenegro, Kroasia. Pembantaian yang dilakukan warga Serbia terhadap warga Bosnia tak dapat kita lupakan. Pada Perang Dunia II Adolf Hitler juga melakukan pembantaian terhadap mereka yang dia anggap bukan ras unggul, bukan ras Aryan.
The Partition menceriterakan bagaimana seorang Sikh mantan prajurit Inggris menyelamatkan seorang perempuan muslim yang rombongan dan keluarga sedang dibantai oleh kelompok Sikh. Gian, nama Sikh ini, harus melawan kelompoknya sendiri untuk melindungi Naseem, perempuan muslim. Akhirnya mereka jatuh cinta menikah dan mendapatkan anak bernama Vijay. Naseem kemudian mencari keluarganya yang mungkin masih hidup tetapi berada di Pakistan. Di Pakistan dia menemukan ibu dan 2 kakak lakinya yang bahagia menemukan kembali anak dan adik mereka. Karena ayahanda mereka tewas dibantai, kebencian terhadap orang Sikh sangat tinggi. Mengetahui Naseem menikahi seorang Sikh membuat mereka marah dan menyekap Naseem supaya tidak kembali ke India. Sementara Gian dan Vijay yang masih balita mencari Naseem dengan memasuki Pakistan. Sebelumnya Gian masuk Islam terlebih dahulu supaya bisa masuk Pakistan dan diberi nama Muhammad Hasan. Petaka menjadi akhir kisah ini karena mereka tidak diperkenankan bersatu kembali karena seorang Sikh tetaplah Sikh dan tidak bisa menjadi Muslim. Akhir cerita dramatis ini adalah Gian tewas dan Naseem membawa Vijay kembali ke India dibawah perlindungan seorang wanita Inggris yang bekerja di kedutaan Inggris.
Perbedaan adalah Rahmat Allah dan perbedaan lah yang membuat umat manusia bisa bergerak maju. Menyeragamkan umat manusia tidak akan berhasil karena bertentangan dengan hukum alam (sunatullah). Bahkan secara biologis sudah terbukti bahwa perkawinan antar suku, antar bangsa, antar ras menghasilkan generasi manusia yang lebih sehat, lebih cantik, lebih cerdas. Perkawinan di dalam suku atau ras atau etnik sendiri sering menimbulkan tragedi, malapetaka, penyakit, dst. Kita diciptakan untuk berbagi cinta kasih walaupun manusia terbagi dalam kelompok Habil dan Qabil. Iblis merasuki Qabil sehingga iri, dengki, benci, menguasainya. Qabil hanya punya sifat hewaniyah. Itulah yang terjadi bila kita bukannya mencintai tapi membenci hanya karena perbedaan.
Mengapa sulit bagi kita mencintai? Egoisme dan nafsu membuat manusia lebih rendah daripada binatang. Sedangkan binatang yang tak punya akal tak memangsa sesamanya kecuali ada provokasi. Manusia suka memangsa sesamnya karena akalnya hilang. Kapan kita bisa berbeda pendapat, berbeda agama, berbeda politik tanpa harus membenci dan membunuh yang berbeda dengan kita?
Semoga kita semua dilindungi dan diberikan kekuatan untuk selalu mencintai. Yang jahat akan dikalahkan oleh cinta tetapi kita pun harus melakukan dua hal – preventif dan represif terhadap yang bersalah.